Jakarta (26/6) – Pernahkah kamu mendengar istilah inner child? Istilah ini populer dalam ilmu psikologi pada tahun 1970-an. Secara komperehensif inner child beserta penanganannya dibahas pada tahun 1976 oleh Lucia Capacchione. Inner child merupakan bagian dalam diri seseorang yang merupakan hasil dari pengalaman masa kecilnya. Inner child merupakan salah satu bagian dari alam bawah sadar manusia.

Mengacu pada John Bradshaw (1992), inner child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian dengan baik. Orang dewasa bisa memiliki berbagai macam kondisi inner child yang dihasilkan oleh pengalaman positif dan negatif yang dialami pada masa lalu. Seperti motivasi alam bawah sadar lainnya, inner child juga muncul pada orang dewasa dalam bentuk perilaku atau keadaan emosi yang tidak disadari (unconscious).

Hasil dari pengalaman masa lalu yang membentuk inner child dapat terlihat dalam bentuk sifat yang beragam, misalnya sifat bergantung kepada orang lain atau dependency, impulsivitas, atau dalam bentuk positif seperti mandiri, asertif dan masih banyak lagi contoh perilaku lainnya yang dapat berupa gangguan trauma.

Seringkali gangguan pada Inner child membawa masalah pada tingkah laku, emosi, dan hubungan sosial orang dewasa (Diamond, 2008).. Begitu juga sebaliknya, inner child yang cenderung stabil juga akan memberi dampak positif seperti menunjukkan perilaku yang sesuai dengan situasi, emosi yang stabil, serta hubungan sosial yang suportif (Diamond, 2008).

Masalah trauma masa kecil memang bisa menjadi hambatan bagi stabilnya Inner child, namun tidak selamanya hal ini menjadi penghambat bagi seseorang untuk berkembang menjadi manusia dengan stabilitas emosi yang baik atau memiliki hubungan sosial yang baik pula. Trauma masa kecil yang memengaruhi inner child bisa diatasi dengan memberikan penanganan yang tepat.

Menurut Diamond (2008), seseorang yang dikatakan dewasa adalah mereka yang menerima masa lalu, memahami kebutuhan inner child serta memenuhinya tanpa bergantung kepada orang lain ataupun menyusahkan orang lain. Penerapan disiplin, serta mengetahui batasan-batasan diri adalah hal yang penting dalam pemenuhan kebutuhan inner child bagi orang dewasa yang stabil dalam emosi, perilaku dan lingkungan social (Diamond, 2008).

Seseorang yang dikatakan dewasa adalah mereka yang menerima masa lalu, memahami kebutuhan inner child serta memenuhinya tanpa bergantung kepada orang lain ataupun menyusahkan orang lain. Penerapan disiplin, serta mengetahui batasan-batasan diri adalah hal yang penting dalam pemenuhan kebutuhan inner child bagi orang dewasa yang stabil dalam emosi, perilaku dan lingkungan sosial.

Bagaimana cara menyembuhkan luka masa kecil?

Apa yang bisa kita lakukan agar tidak terus dihantui oleh inner child yang terluka? Anda dapat berdamai dengannya, merangkulnya, lalu menyembuhkannya. Berikut adalah langkah menyembuhkan luka masa kecil menurut ahli:

  1. Menyadari inner child
  2. Pertama-tama, sadarilah bahwa ada sosok ‘anak kecil’ dalam diri Anda yang masih terluka. Mengunjungi masa lalu yang menyakitkan memang tidak mudah. Namun mengubur masa lalu tersebut dalam-dalam tanpa berusaha menyembuhkannya hanya juga akan membuat inner child terus mendominasi diri Anda serta melahirkan perasaan-perasaan negatif.

  3. Jalin komunikasi dengan inner child
  4. Sisihkan waktu setiap harinya untuk berdialog dengan anak dalam diri Anda. Bayangkan diri Anda ketika kecil dulu dan ia sedang berhadapan dengan Anda. Saat Anda sudah benar-benar merasakan kehadirannya, mulailah berdialog dengan sang anak. Katakan padanya bahwa Anda siap untuk mendengarkan dan akan terus berada di sampingnya. Anda bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang suportif dan menenangkan untuknya, misalnya:

    • “Aku mencintaimu dan kamu sungguh berharga untukku.”
    • “Kamu tidak perlu merasa bersalah atau malu. Semua yang terjadi bukanlah salahmu.”
    • “Kamu tidak akan lagi kesepian. Aku akan selalu di sini untukmu.”
    • “Maafkan aku karena selama ini sudah menyangkal dan mengabaikan perasaanmu.”
    • Rangkul rasa marah dan sedih

    Saat berhadapan dengan inner child Anda, mungkin ada amarah yang tiba-tiba meluap di luar kendali. Tidak apa, ini bisa menjadi awal rekonsiliasi dengan anak dalam diri Anda. Faktanya, tidak selamanya marah itu negatif. Rasa marah sebenarnya adalah emosi yang normal dan sehat. Dalam keadaan tertentu, amarah diperlukan dan dapat membawa efek positif. Begitu juga dengan rasa sedih. Perasaan ini wajar muncul ketika Anda mengalami trauma yang belum terselesaikan. Jadi Anda tidak perlu merasa aneh atau cengeng apabila dilanda kesedihan.

  5. Meditasi
  6. Proses rekonsiliasi dengan anak kecil dalam diri Anda bisa terasa melelahkan. Meditasi dapat memberikan rasa tenang pada pikiran. Jika jiwa Anda tenteram, menjalani dialog dengan inner child pun akan lebih mudah. Ada banyak sekali aplikasi meditasi yang tersedia dan bisa Anda unduh. Beberapa menawarkan fasilitas free trial yang bisa dicoba tanpa harus berlangganan.

  7. Cari bantuan profesional
  8. Berdamai dengan inner child bisa Anda lakukan sendiri atau dengan dukungan psikolog. Adanya psikolog yang mendampingi akan membantu proses rekonsiliasi menjadi lebih mudah. Untuk Anda yang baru pertama kali ke psikolog, mungkin awalnya akan merasa canggung. Buatlah diri Anda senyaman mungkin, dan ungkapkan semua perasaan Anda secara jujur. Dengan ahli yang profesional, kerahasiaan dan privasi Anda akan terjamin.

Setiap orang yang membutuhkan kasih sayang dimasa kecilnya tetapi tidak mendapatkannya, bisa melatih dirinya untuk berinteraksi dengan sebanyak mungkin orang dan membentuk adult self yang bisa mencintai dirinya sebagaimana adanya.

*Sumber: SehatQ