Jakarta (9/9) – Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, disebabkan oleh virus rabies, dan menyerang sistem saraf pusat. Virus penyebabnya adalah lyssaviruses. Anjing merupakan hewan perantara virus yang paling sering menularkan, dengan lebih dari 99 persen kematian pada manusia disebabkan rabies yang ditularkan dari anjing.

Selain anjing, kucing dan kelinci peliharaan, hewan liar seperti rakun, sigung, dan kelelawar juga dapat menularkan rabies. Virus ini ditularkan melalui air liur hewan yang terinfeksi, yang masuk ke dalam tubuh melalui infiltrasi air liur yang mengandung virus melewati luka. Misalnya lewat cakaran atau gigitan.

Pada kasus yang cukup jarang, hewan terinfeksi yang menjilat luka Anda juga dapat menularkan penyakit rabies. Perlu diingat bahwa rabies tidak ditularkan melalui darah (luka pada kulit) atau orang ke orang.

Karena tidak dapat masuk melalui kulit yang utuh, ketika virus rabies mencapai otak, virus tersebut akan bereplikasi, yang selanjutnya menyebabkan munculnya tanda dan gejala pada orang yang terinfeksi.

Perlu diketahui, ketika seseorang digigit hewan yang terinfeksi rabies, terdapat waktu inkubasi dari saat virus masuk hingga tanda dan gejala timbul. Lamanya bisa beberapa minggu hingga beberapa bulan, tetapi biasanya selama 2-3 bulan.

Lamanya waktu inkubasi tersebut bergantung pada lokasi virus masuk (seberapa jauh dari otak), tipe virus rabies, dan kondisi kekebalan tubuh sebelumnya.

Tips mencegah rabies

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah rabies pada manusia yang bisa diupayakan sebelum terjangkit virus atau segera setelah terkena gigitan adalah:

  1. Menghindari kontak dengan hewan-hewan liar, termasuk hewan yang terluka atau yang hewan yang berpotensi mengalami rabies.
  2. Melakukan vaksinasi rabies pada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, seperti dokter hewan, petugas laboratorium yang menangani hewan terinfeksi atau berisiko, orang-orang yang akan berlibur ke gunung, orang-orang yang berada atau menetap lebih dari 30 hari di daerah yang banyak ditemukan rabies pada anjing, dan para penjelajah gua kelelawar.
  3. Human rabies immune globulin (HRIG) dan vaksin rabies dapat diberikan sebagai pencegahan setelah terpapar virus rabies. Kombinasi ini diberikan pada hari pertama terjadinya paparan. Selanjutnya, vaksin rabies bisa diberikan lagi pada hari ketiga, ketujuh, dan keempat belas setelah terpapar rabies. Bagi orang-orang yang sudah mendapat vaksinasi rabies sebelumnya, cukup diberikan vaksin rabies saja.

Sementara itu, hal-hal yang dapat dilakukan pada hewan peliharaan untuk mencegah terjadinya rabies adalah:

  • Mengunjungi dokter hewan dan memberikan vaksin pada hewan peliharaan seperti anjing, kucing, burung, dan kelinci peliharaan.
  • Selalu menjaga hewan peliharaan agar tidak tertular dari hewan lain.
  • Bekerja sama dengan pihak berwenang setempat agar mereka dapat mengelola hewan liar yang ada di sekitar lingkungan Anda, karena hewan-hewan tersebut mungkin tidak divaksinasi atau sakit.

Tidak hanya untuk hewan, tindakan pencegahan rabies juga harus dilakukan untuk diri sendiri, terlebih jika kamu sering bepergian. Prevalensi rabies cenderung bervariasi di setiap negara. Meski begitu, semakin sedikit populasi anjing liar, tingkat rabies pun akan semakin kecil.

Rabies bisa ditemui di 150 negara dan di semua benua, kecuali Antartika dan Arktik. Wilayah seperti Selandia Baru, Australia, Mauritius, dan Seychelles melakukan pencegahan rabies dengan isolasi alami.

Risiko infeksi tinggi jika kamu bepergian di daerah endemik rabies, atau ikut serta dalam aktivitas yang bersentuhan dengan hewan liar. Jika demikian, kamu harus bertanya pada dokter terkait vaksinasi untuk diri sendiri.

Jadi, jangan sepelekan rabies. Segera lakukan tindakan pencegahan rabies dengan dokter hewan atau dinas terkait ya, Maiders. 🙂

*Sumber: klikdokter