Jakarta (20/11) – Dilansir dari Wikipedia Hari Anak adalah acara yang diselenggarakan pada tanggal yang berbeda-beda di berbagai tempat di seluruh dunia. Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni dan Hari Anak Universal diperingati setiap tanggal 20 November. Negara lainnya merayakan Hari Anak pada tanggal yang lain. Perayaan ini bertujuan menghormati hak-hak anak di seluruh dunia. Di Indonesia, Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984.

Setelah sekian tahun berjalan, Anda dan mungkin sejumlah orang di luar sana masih bingung beda antara Hari Anak Internasional dan Hari Anak Sedunia. Sekilas, keduanya memiliki maksud yang sama, namun jika ditelaah dari sejarahnya, mereka punya concern berbeda tentang anak.

Supaya tidak salah, mari mulai dari waktu peringatannya. Hari Anak Internasional dirayakan tiap 1 Juni, sementara Hari Anak Sedunia jatuh pada hari ini, 20 November. Di tahun 1925, Hari Anak Internasional ditetapkan guna menarik perhatian dunia pada deretan isu yang berdampak pada anak.

Dikutip dari compassion.com pada tahun 2018, perwaklian negara-negara yang hadir saat itu mengenali kalau orang dewasa memiliki utang untuk memberi bekal terbaik pada anak-anak, Sebagai hasil, konferensi tersebut mengadopsi Dekrasi Geneva tentang Hak-hak Anak.

Pertama, menyediakan perbekalan anak untuk tubuh, baik secara material maupun spiritual. Kedua, anak yang lapar harus diberi makan, anak yang sakit mesti mendapat penanganan medis, anak yang memiliki keadaan kurang normal harus diberi pertolongan, anak yang bermasalah dengan hukum harus dibantu, dan anak yatim piatu harus memiliki tempat berteduh yang layak.

Ketiga, anak harus mendapat perlakuan tepat di masa-masa tersulit. Keempat, anak harus diletakkan di posisi ia bisa berkembang dengan baik, tanpa adanya eksploitasi. Terakhir, anak harus terus diingatkan kalau keahlian mereka harus berguna bagi masyarakat.

Sementara Hari Anak Sedunia diciptakan untuk mengubah bagaimana masyarakat melihat dan memperlakukan anak-anak, juga meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan anak. Peringatan ini pertama kali diprakarsai di tahun 1954.

Hari Anak Sedunia adalah untuk membina dan memenangkan hak-hak anak di seantero Bumi. Hak anak bukanlah hak spesial dan berbeda. Tapi, mereka memiliki hak yang sama pentingnya dengan orang dewasa. Peringatan ini ingin mengingatkan kalau anak juga bagian dari lingkungan sosial dan harus diperlakukan sebagaimana mestinya.

Dengan konsentrasi isu berbeda, kedua perayaan in, baik Hari Anak Internasional dan Hari Anak Sedunia, bermaksud melindungi anak-anak di berbagai keadaan, seperti saat pandemic covid-19, guna regenerasi lebih baik.

Tahun ini, krisis COVID-19 telah mengakibatkan krisis hak-hak anak. Biaya pandemi untuk anak-anak bersifat langsung dan, jika tidak ditangani, dapat berlangsung seumur hidup. Sudah waktunya bagi generasi untuk berkumpul bersama untuk menata kembali jenis dunia yang ingin kita ciptakan. Pada 20 November, anak-anak akan membayangkan kembali dunia yang lebih baik. Apa yang akan kamu lakukan?

Situasi anak-anak dan perempuan di Indonesia telah membaik secara substansial selama beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, tren nasional masih menyisakan kesenjangan yang signifikan di seluruh wilayah geografis dari berbagai kelompok sosial. Karena ukuran negara yang luas, kesenjangan ini sebanding dengan jumlah anak yang juga besar.

Tantangan ini diperburuk oleh geografi. Populasi tersebar di lebih dari 17.000 pulau yang mencakup jarak lebih dari 5.000 km dari barat ke timur. Oleh karena itu, mengatasi kesenjangan ini adalah inti dalam mewujudkan hak-hak anak di Indonesia.

Secara keseluruhan peluang ekonomi untuk anak-anak cukup bagus. Indonesia telah menyaksikan keuntungan ekonomi yang mengesankan yaitu sekitar 4-10 persen setiap tahun selama beberapa dekade.

Tingkat kesuburan dan kematian yang menurun menunjukkan ‘kesenjangan demografis’ antara tingkat kelahiran dan harapan hidup akan berkurang pada tahun 2030-an. Sementara itu, populasi anak muda yang besar akan terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Bagaimana perlindungan anak di Indonesia?

Dikutip dari laman website resmi Unicef, anak-anak baik di lingkungan sekolah atau rumah terkadang masih sering menjadi objek kekerasan. Intimidasi dan dipermalukan adalah hal yang biasa terjadi di sekolah-sekolah, dengan 18 persen anak perempuan dan 24 persen anak laki-laki terpengaruh. Anak laki-laki terutama menghadapi risiko serangan fisik di sekolah.

Guru sering menggunakan hukuman fisik dan emosi untuk mendisiplinkan anak-anak, padahal kebanyakan dari mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali serta melaporkan kekerasan setiap masalah yang mereka alami. Di lingkungan rumah yang masih menerapkan praktik tradisional, anak perempuan berusia remaja cenderung lebih rentan mengalaminya, seperti perkawinan di bawah umur.

Satu dari setiap sembilan anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, dan anak-anak perempuan dari keluarga termiskin lima kali lebih mungkin menikah pada usia sangat dini dibandingkan teman-teman mereka yang lebih kaya. Bentuk kekerasan lainnya adalah mutilasi alat kelamin perempuan (FGM) yang masih tinggi, yaitu 52 persen.

Perkawinan anak, selain melanggar hak-hak anak dengan memaksa mereka berhenti sekolah, juga mengakibatkan kemiskinan antargenerasi, merusak pendidikan jangka panjang, kemampuan untuk mencari nafkah, dan ironisnya juga dapat bertambah jumlahnya.

Di sisi hukum, kekerasan terhadap anak belum dilarang dalam semua pengaturan (perkosaan dalam pernikahan masih diizinkan), dan sistem keadilan untuk anak-anak belum memprioritaskan perlindungan bagi semua anak yang berurusan dengan hukum.

Sementara anggaran pemerintah dalam hal perlindungan anak-anak dari kekerasan hanya kurang dari 0,1 persen dari total anggaran. Prosedur administrasi publik yang kompleks dan kurangnya kewenangan yang diamanatkan untuk perlindungan anak mengakibatkan kesulitan dalam menyediakan layanan yang efektif untuk anak-anak yang rentan.

Selain itu, sekitar 17 persen anak-anak di bawah usia 18 tahun tidak memiliki akta kelahiran, yang menyebabkan mereka sulit untuk mengakses layanan utama.

*Sumber: Wikepedia | Compassion.com | Unicef.org