Jakarta (2/7) – Pemprov DKI memutuskan memperpanjang masa PSBB Transisi fase I selama 14 ke depan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan sekolah di Ibu Kota belum akan dibuka.

“Kami tegaskan sekolah belum akan dibuka meskipun tahun ajaran akan mulai 13 Juli, 13 Juli tahun ajaran mulai, tapi mulainya masih di dalam pembelajaran jarak jauh, jadi tetap PJJ, jadi awal tahun (ajaran) barunya masih tetap di rumah,” kata Anies di Balai Kota Jakarta, Rabu (1/7/2020).

Anies mengatakan saat ini Pemprov masih fokus dalam pemantauan kasus Corona. Dia menyebut, berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, anak-anak jadi salah satu yang rentan terkena COVID-19.

“Sekolah belum akan ada rencana pembukaan sekolah, kita masih memantau perkembangan wabah, karena salah satu yang paling berisiko adalah anak anak dan tadi dilaporkan kepala dinas kesehatan, risiko di anak-anak untuk di kasus Indonesia dan Jakarta cukup tinggi,” ujar Anies.

Sebelumnya, Pemprov DKI memutuskan PSBB transisi diperpanjang 14 hari. Seperti diketahui, PSBB transisi seharusnya diakhiri pada 2 Juli 2020. “Total skornya 71. Dengan total skor ini, status kita bisa melakukan pelonggaran dan kesimpulan rapat gugus tadi disimpulkan PSBB transisi, yang artinya semua kegiatan berlangsung masih dengan kapasitas 50%, diteruskan 14 hari ke depan,” kata Anies. “PSBB di Jakarta diperpanjang selama 14 hari ke depan,” tambahnya.

Alasan mengapa PSBB Transisi di perpanjang?

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan wabah Corona di Jakarta belum hilang. Jadi dia memutuskan tidak melakukan pelonggaran yang berisiko memunculkan lompatan jumlah kasus Corona.

“Mengenai PSBB, active case finding di Jakarta amat tinggi. Jadi kasus positif yang ditemukan bukan dari pasien di rumah sakit atau orang datang ke rumah sakit karena ada keluhan,” kata Anies dalam konferensi pers di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (1/7/2020).

“Tapi mayoritas didapat melalui puskesmas yang secara aktif mendatangi komunitas yang ada probabilitas tertular. Oleh karena itu, masih bisa katakan bahwa wabahnya masih ada,” tambahnya. Anies mengatakan Jakarta belum bisa bebas. Dia mengatakan PSBB transisi di Jakarta diperpanjang atas alasan keselamatan.

“Memang positivity rate berkisar angka 5%, artinya dalam standar WHO itu aman. Tetapi bukan berarti kita bebas. Dan angka reproduction masih 1, belum turun ke angka yang aman. Masih sama dengan angka bulan yang lalu. Karena itulah kita merasa lebih bertanggung jawab apabila kita teruskan ini, karena keselamatan nomor 1,” ungkapnya.
Anies mengatakan Pemprov DKI akan terus meningkatkan tracing contact untuk bisa memutus penyebaran mata rantai COVID-19. Dia mengatakan PSBB transisi diperpanjang untuk menghindari munculnya lonjakan kasus.

“Dan kita tak ingin di Jakarta kita melakukan pelonggaran dari 50% kapasitas menjadi 100%, kan kalau sudah lepas PSBB bisa 100%, lalu ada lompatan kasus, berisiko. Tetap kerjakan dengan 50%, dengan cara seperti itu mudah-mudahan kita bisa mengendalikan. Kita lihat 2 pekan lagi ke depan,” ucap dia.

Anies mengatakan akan makin menggencarkan penelusuran kasus aktif dengan memperbanyak tes. Dia mengatakan langkah tersebut diambil sebagai upaya pengendalian wabah.

Tujuan kita bukan menurunkan garis, tapi mengendalikan wabah. Jadi bagi kami lebih baik ditingkatkan aktivitas testingnya, menjangkau pribadi-pribadi yang tanpa gejala lalu positif lalu diisolasi, daripada kita membiarkan dengan mengurangi testing,” tambahnya.

Anies menegaskan perpanjangan PSBB transisi di Jakarta diambil untuk pertimbangan keselamatan. Dia juga mengingatkan warga Jakarta untuk mengurangi aktivitas bepergian.

“Jadi tadi istilah yang digunakan tes, lacak, isolasi (TLI). Dengan itu, kita ingin warga Jakarta punya keyakinan bahwa pemerintah melakukan semua langkah untuk melindungi dan menjamin semua warganya. Pemerintah mengambil sikap bertanggung jawab untuk memastikan keselamatan nomor 1. Itu sebabnya kita perpanjang PSBB. Dan jika tak ada kepentingan jangan pergi,” tuturnya.