Jakarta (24/10) – Dilansir dari Wikipedia, Hari Dokter Nasional adalah sebuah hari penting yang umumnya dirayakan di organisasi-organisasi kesehatan untuk menghargai jasa-jasa para dokter kepada masyarakat dan kehidupan individual. Acara tersebut biasanya diselenggarakan oleh staf di sebuah organisasi kesehatan. Hari Dokter Nasional di Indonesia identik dengan hari jadi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), 24 Oktober.

Untuk merayakan Hari Dokter Nasional biasanya rekan-rekan dokter memperingatinya dengan mengadakan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan dan kedokteran, seperti pengobatan gratis, senam sehat, konsultasi kesehatan gratis, dan berbagai jenis kegiatan lainnya.

Sejarah

Organisasi Ikatan Dokter Indonesia sejatinya telah lebih dulu lahir jauh sebelum diresmikan pada 1950. Perkumpulan dokter di nusantara diberi nama Vereniging van Indische Artsen dan berdiri pada tahun 1911. Selama kurang lebih lima belas tahun berjalan, pada tahun 1926, organisasi ini mengalami perubahan nama menjadi Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen (VGI).

Tahun 1940, VIG mengadakan kongres di Solo. Kongres menugaskan Prof. Bahder Djohan untuk membina dan memikirkan istilah baru dalam dunia kedokteran. Tiga tahun berselang, pada masa pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan diganti menjadi Jawa izi Hooko-Kai.

Selanjutnya pada 30 Juli 1950, atas usul Dr. Seni Sastromidjojo, PB Perthabin (Persatuan Thabib Indonesia) & DP-PDI (Perkumpulan Dokter Indonesia) mengadakan satu pertemuan yang menghasilkan “Muktamar Dokter Warganegara Indonesia (PMDWNI)”, yang diketuai Dr. Bahder Djohan.

Puncaknya tanggal 22-25 September 1950, Muktamar I Ikatan Dokter Indonesia (MIDI) digelar di Deca Park yg kemudian diresmikan pada bulan Oktober. Dalam muktamar IDI itu, Dr. Sarwono Prawirohardjo terpilih menjadi Ketua Umum IDI pertama.

Pada tanggal 24 Oktober 1950, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) secara resmi mendapatkan legalitas hukum di depan notaris. Pada tanggal itulah ditetapkan hari jadi IDI yang juga diperingati sebagai Hari Dokter Nasional di Indonesia.

Mengenai hari dokter nasional, pastinya Maiders bertanya-tanya kisaran berapa ya, biaya pendidikan kedokteran? Yuk, simak sama-sama:

Mengenai Biaya Kuliah Kedokteran 2020/2021 di Universitas Negeri (PTN). Informasi ini ditujukan khususnya bagi calon mahasiswa kedokteran yang ingin kuliah di Universitas Negeri. Menjadi seorang dokter memang cita-cita yang diidam-idamkan banyak orang.

Namun untuk bisa mewujudkannya ini, selain kemampuan akademis, kamu juga harus mempersiapkan kebutuhan finansial karena fakultas kedokteran memang terkenal akan biaya pendidikannya yang relatif lebih mahal dibandingkan jurusan di fakultas lainnya.

Hal itu disebabkan kuliah di jurusan ini menggunakan lahan dan perlengkapan untuk berpraktik yang tidak murah pula, misalnya untuk membeli buku-buku wajib kedokteran, membeli cadaver (mayat) untuk pembelajaran anatomi, bahan-bahan praktik di laboratorium, belum lagi akses-akses untuk dapat berpraktik di fasilitas kesehatan tertentu.

Kuliah di Program Studi Kedokteran itu sangat membanggakan karena profesi yang bakal disandang setelah lulus adalah profesi yang mulia, yaitu menjadi seorang Dokter. Telah diketahui bahwa kuliah di program studi Kedokteran membutuhkan banyak biaya. Itu benar sekali. Dibanding dengan program studi lainnya, kuliah di program studi kedokteran adalah yang paling mahal.

Jadi, bagi kalian yang ingin kuliah di program studi kedokteran, harus benar-benar dipikirnya biaya yang bakalan dikeluarkan nanti, mulai dari biaya masuk, biaya per semester, biaya praktek, biaya pembelian buku-buku, biaya hidup, dan lain-lain.

Biaya kuliah kedokteran antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) memiliki sistem dan kebijakan yang berbeda. Biaya kuliah kedokteran di PTN saat ini telah menggunakan sistem UKT.

Sedangkan biaya kuliah kedokteran di PTS tetap menerapkan sistem yang sudah ada seperti adanya pemungutan Biaya SKS, Biaya Penyelenggaraan Pendidikan, Biaya SPP (Sumbangan Pengembangan Pendidikan), Dana kemahasiswaan, Dana Asuransi, Dana Laboratorium, dan lain sebagainya.

Namun disini pembahasannya akan difokuskan pada biaya kuliah kedokteran di PTN saja. Jadi, biaya kuliah kedokteran di PTS tidak dibahas lebih lanjut.

Sejak tahun 2013 lalu, Pemerintah telah merubah sistem pembiayaan perkuliahan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Pemerintah melalui DIKTI menyalurkan dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN).

Bantuan BOPTN ini disalurkan oleh Pemerintah pada seluruh PTN di Indonesia agar setiap PTN bisa menerapkan sistem pembiayaan perkuliahan dengan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Sejak adanya peraturan pemerintah mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT), sistem pembiayaan kuliah di PTN telah berubah termasuk di program studi kedokteran, yang sebelumnya ada uang pangkal, uang gedung, uang SKS, dan sebagainya, kini sudah tidak ada lagi. Semuanya telah terakumulasi dalam sistem UKT.

Dengan demikian, penerapan UKT di PTN ini memberikan perbedaan yang cukup jauh antara sistem pembiayaan perkuliahan saat ini dengan sistem sebelumnya. Selain itu, juga memberikan perbedaan antara biaya kuliah kedokteran di PTN dan PTS.

Di PTN, ada beberapa jalur seleksi untuk menjaring calon mahasiswanya, yaitu jalur SNMPTN, SBMPTN, dan mandiri. Berkaitan dengan UKT ini, PTN membagi UKT dalam beberapa kategori untuk mahasiswa baru yang diterima melalui jalur seleksi SNMPTN dan SBMPTN, sedangkan mahasiswa baru yang diterima melalui jalur seleksi mandiri, akan dikenakan UKT level atas.

Maiders, mari kita lihat bagaimana gambaran biaya kuliah jurusan kedokteran di Universitas Indonesia (UI). Pembagian kelompok sistem UKT untuk FK UI ini berdasarkan atas tingkatan ekonomi mahasiswa.

Data tingkatan ekonomi tersebut diperoleh ketika calon mahasiswa mengisi formulir saat dinyatakan telah lulus tes tertulis dan tes kesehatan. Pembagian kelompok UKT tersebut adalah:

Biaya Pendidikan

Biaya pendidikan S1 Reguler dibayarkan sesuai dengan kemampuan penanggung biaya, BOP-B (Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan). BOP-B dibayarkan dengan kisaran Rp 100.000 – Rp 7.500.000. Untuk S1 reguler terhitung 2013 sudah tidak dikenakan uang pangkal, hal ini dikarenakan uang pangkal disubsidi oleh pemerintah melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN).

UI menggunakan Uang Kuliah Tunggal atau UKT sebagai sistem pembayaran dimana mahasiswa membayar biaya satuan pendidikan yang sudah ditetapkan program studi dan tidak dikenakan lagi biaya per SKS.

Program Studi S1 Pendidikan Dokter:

  • UKT I = Rp. 0 – Rp. 500.000 ,- Per-Semester
  • UKT II = Rp. 501.000 – Rp. 1.000.000,- Per-Semester
  • UKT III = Rp. 1.000.000 – Rp. 2.000.000,- Per-Semester
  • UKT IV = Rp. 2.000.000 – Rp. 3.000.000,- Per-Semester
  • UKT V = Rp. 4.000.000 – Rp. 15.000.000,- Per-Semester

Untuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), biaya kuliah reguler rata-rata adalah sekitar Rp. 107 juta sampai meraih gelar dokter. Namun dengan sistem UKT ini biaya turun drastis hingga mencapai sekitar Rp. 30,5 juta saja. Bahkan untuk siswa dengan kemampuan ekonomi sangat terbatas namun memiliki prestasi akademik, bisa tidak dipungut biaya sama sekali hingga lulus S1 dan profesi kedokteran. Menarik bukan?

Demikianlah informasi mengenai Biaya Kuliah Kedokteran 2020/2021 di Universitas Negeri (PTN). Semoga informasi tersebut bisa menjadi gambaran bagi kalian khususnya yang ingin sekali kuliah kedokteran di Universitas Negeri.

Apabila biaya kuliah kedokteran saat ini telah berubah, maka ikuti perubahan yang ada di website resmi masing-masing Univesitas Negeri ya, Maiders.

*Sumber: biayakuliah | ui.ac.id | Maimaid Team