Jakarta (20/11) – Bagi keluarga yang berdiam di rumah selama wabah penyakit akibat virus Corona (COVID-19), waktu yang dihabiskan anak di dunia maya sangat mungkin meningkat drastis. Sebab, hampir semua kegiatan dilaksanakan melalui platform daring, mulai dari belajar, mengobrol dengan teman dan kakek-nenek, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

Zaman ini, perkembangan digital dan media semakin pesat. Anak-anak tidak lagi menerima informasi positif dari suguhan tayangan media. Informasi negatif yang yang belum sepantasnya diketahui anak kini diterima dengan sangat bebas. Karena itu, orangtua harus mencegah dampak negatif media dari anak-anak. Seperti yang dimuat dalam buku Menjadi Orangtua Hebat terbitan BKKBN, berikut kiat melindungi anak dari pengaruh media.

Bagi anak dan remaja, keterhubungan dengan lingkungan sosialnya sangat penting untuk mengurangi dampak rutinitas baru (dan sementara) ini, serta membuat mereka tetap bersemangat. Tentunya, hal ini bukan tanpa tantangan bagi orang tua.

Bagaimanakah kita dapat memaksimalkan kegunaan internet yang berpengaruh ke media sekaligus meminimalkan potensi dampak negatifnya? Pertanyaan yang menantang ini boleh jadi kian sulit dijawab pada masa krisis Kesehatan seperti wabah COVID-19.

Berkomunikasi dengan terbuka

Upayakan komunikasi jujur dan terbuka dengan anak tentang cara dan teman interaksi mereka di dunia maya. Pastikan anak paham bahwa interaksi dunia maya pun harus dilakukan dengan baik dan sopan. Perlakuan yang bersifat mendiskriminasi atau tidak pantas tetap tidak boleh ditoleransi. Dorong anak untuk selalu bercerita kepada orang dewasa yang bisa mereka percayai apabila mereka mendapatkan pengalaman negatif. Selain itu, amati perilaku anak; waspadalah jika anak tampak murung atau cenderung menyembunyikan kegiatannya di internet, atau jika mengalami perundungan di dunia maya. Buat peraturan bersama anak tentang cara, kapan, dan di mana mereka boleh menggunakan perangkat elektronik.

Manfaatkan fitur perlindungan teknologi

Pastikan perangkat yang digunakan anak telah menggunakan peranti lunak dan program antivirus terbaru, dengan pengaturan privasi diaktifkan. Matikan/tutupi webcam jika tidak sedang digunakan. Untuk anak usia muda, terdapat fitur pengendalian orang tua, termasuk pencarian aman (safe search), agar setiap akses mereka aman dan positif. Berhati-hatilah terhadap sumber belajar daring yang menawarkan akses gratis. Jangan berikan foto dan nama lengkap anak, karena platform yang sah tidak meminta data ini. Ingat untuk selalu memeriksa pengaturan privasi untuk meminimalkan perekaman data pribadi. Ajarkan anak cara melindungi informasi pribadinya, terutama dari orang yang tidak dikenal.

Temani anak saat mengakses internet

Ciptakan kegiatan interaksi daring dengan teman, keluarga, atau orang tua sendiri dengan anak. Pada masa seperti ini, rasa keterhubungan sosial sangat penting. Inilah peluang bagi orang tua mencontohkan sikap baik dan empati dalam interaksi virtual. Bantu anak mengetahui dan menghindari bentuk-bentuk misinformasi serta konten yang tidak sesuai dengan usianya, yang mungkin membuatnya semakin cemas tentang virus COVID-19. Informasi digital dari sumber terpercaya, seperti UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mudah diakses oleh orang tua dan anak serta dapat digunakan untuk mempelajari tentang virus ini. Selain itu, temani anak mencari aplikasi, permainan, atau hiburan daring lain yang sesuai dengan usianya.

Ajarkan anak untuk tetap berperilaku baik di dunia maya

Contohkan dan pantau perilaku positif di dunia maya dan saat melakukan panggilan video. Ingatkan anak untuk selalu bersikap baik terhadap teman sekelas, mengenakan pakaian yang pantas, dan untuk tidak bergabung dalam panggilan video dari kamar tidur. Untuk orang tua, pelajarilah kebijakan sekolah dan kontak yang bisa dihubungi untuk melaporkan peristiwa cyberbullying atau konten negatif. Dengan bertambahnya waktu yang dihabiskan anak di dunia maya, mereka tak pelak akan terpapar iklan dari beragam jenis produk termasuk makanan yang tidak sehat, stereotip gender, ataupun konten yang tidak seusai dengan usianya. Bantu anak mengenali iklan di internet. Gunakan kesempatan ini untuk membahas aspek negatif atau keliru dari konten yang tampil.

Berikan anak ruang untuk berekreasi dan mengekspresikan diri

Berada di rumah bisa memberikan kesempatan baik bagi anak untuk bersuara di dunia maya, mengungkapkan pendapat dan memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan. Orang tua juga bisa menjaga anak tetap aktif dengan mengajarkan dan menemani anak menggunakan sarana digital, seperti video olah raga atau permainan yang membutuhkan gerakan fisik. Ingat, seimbangkanlah rekreasi dunia maya dengan kegiatan fisik, termasuk kegiatan di luar rumah, jika masih memungkinkan.

Dorong Anak untuk Melapor Jika Melihat atau Mengalami Masalah di Dunia Maya

Ingatkan selalu jika anak merasa sedang di-bully, diganggu, diancam, atau menemukan masalah di dunia maya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencari bantuan dari seseorang yang dipercaya seperti Anda sebagai orang tua, wali, anggota keluarga, pendamping, atau orang dewasa lainnya yang terpercaya. Di sekolah, mereka bisa menghubungi guru yang dipercaya seperti guru BK, guru olahraga, atau guru mata pelajaran lainnya.

Jika bullying atau perilaku tidak menyenangkan terjadi di media sosial, mereka bisa memblokir akun pelaku dan melaporkan perilaku di media sosial itu sendiri. Media sosial berkewajiban menjaga keamanan penggunanya.

Mengumpulkan dan menyimpan bukti-bukti bisa membantunya nanti untuk menunjukkan apa yang telah terjadi – misalnya seperti pesan dalam chatting dan screenshot postingan di media sosial, agar dapat ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang.

Bermain bersama keluarga bisa menjadi alternatif mengalihkan media sosial bagi anak. Selain itu juga bisa membuat hubungan anak dan orang tua menjadi lebih dekat, bermain bisa dilakukan di lingkungan rumah.

Perkembangan media sosial dan dunia teknologi yang mempermudah penyebaran informasi, menjaga anak tetap dalam kendali bukanlah hal yang mudah. Mengajarkan anak tentang bahanyanya penyalahgunaan media sosial bisa menjadi pilihan.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda sebagai orang tua ya, Maiders.

*Sumber: Unicef