Jakarta (23/6) – Kematian, adiksi, masalah keuangan, penyakit mental, perceraian atau perpisahan, atau masalah yang timbul ketika terjadi transisi, semuanya adalah masalah yang dapat menghinggapi suatu keluarga. Berbagai masalah ini mungkin tak terselesaikan dengan baik, terutama dengan kehadiran peristiwa yang membuat stres atau ketika pikiran dan tenaga suatu keluarga sudah benar-benar habis.

Hal ini akan berujung pada perselisihan, ketegangan, dan kebencian antaranggota keluarga. Konflik keluarga dapat merusak masing-masing individu di dalamnya. Selesaikanlah masalah keluarga Anda dengan keterampilan menyelesaikan masalah yang efektif.

Berikut tips menyelesaikan masalah dengan dewasa dan bijaksana, dari berbagai sumber:

  1. Mintalah agar setiap orang bersikap jujur dan terbuka
  2. Komunikasi terbuka penting perannya dalam penyelesaian konflik yang efektif. Semua pihak harus menggunakan pernyataan yang dimulai dengan “saya” untuk menyampaikan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan masing-masing.

  3. Pikir baik-baik sebelum bicara
  4. Tekanan konflik bisa membuat seseorang jadi lebih sensitif dan emosional. Kamu mungkin jadi gampang marah, tersinggung, atau bahkan menangis. Untuk menghadapi masalah, setiap orang harus menjaga lisan dengan sebaik-baiknya. Ketika Kakak menegurmu karena komputer di rumah kalian rusak, apa yang kamu lakukan? Kamu mungkin tersinggung lalu berteriak: โ€œBukan aku, kok! Aku kan udah tidak pernah pakai komputer jadul itu!โ€.

    Maiders, tenangkan dirimu. Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kamu menggunakan komputer itu. Jelaskan kalau kamu emang tidak tahu kenapa komputer itu tidak bisa digunakan lagi. Bantu kakakmu untuk mengatasi masalah ini. Tawarkan untuk mengantarkannya ke warnet kalau dia punya tugas kuliah yang mendesak. Lalu, kalian bisa sama-sama pergi ke tukang service komputer dan masalah pun selesai.

  5. Lihat dari sudut pandang yang berbeda
  6. Okelah, kamu merasa nikah beda agama bukan masalah. Kamu yakin kalau orang tua pacarmu akan merestuimu. Kamu siap menghadapi pandangan miring teman, tetangga, dan orang-orang sekitarmu. Tapi, gimana dengan orang tuamu sendiri? Apa mereka juga berpikir seperti kamu?

    Kamu perlu mendengar alasan kenapa mereka cemas dan tidak setuju. Kalau ini soal nilai hidup, nggak mungkin memaksa mereka untuk berpikir dan bersikap seperti kamu. Cobalah bicara dari hati ke hati. Apa sih yang sebenarnya mereka khawatirkan?

    Redam egomu supaya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Pastikan kalau kamu akan ikhlas dan legowo jika ternyata nilai hidup kalian memang nggak bisa disatukan.

  7. Jangan saling menyalahkan
  8. Maiders, kamu harus tahu nih jika kamu sedang dilanda masalah. Tidak ada waktu buat menyalahkan siapapun. bicakan baik-baik masalahmu dengan menanggapi sikap dewasa dan pemikiran bijaksana.

  9. Jadilah orang yang gampang diajak bicara
  10. Saat Kamu bertengkar dengan kakakmu, lalu ngambek dan mengunci diri di kamar. Mau sampai kapan? Dengan bersikap seperti itu, masalahmu hanya akan berlarut-larut tanpa jalan keluar. Kamu dan kakakmu tetap harus duduk dan berbicara baik-baik bersama ya Maiders.

  11. Musyawarah untuk mencapai mufakat
  12. Musyawarah merupakan warisan nenek moyang, musyawarah termasuk budaya yang harus terus dijaga. Mulai dari level keluarga, RT, RW, hingga negara, musyawarah adalah cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan.

    Dalam keluarga, musyawarah juga bisa jadi cara yang paling tepat untuk mengatasi konflik. Melalui diskusi yang panjang dan melibatkan semua anggota keluarga, akan didapat solusi untuk kepentingan bersama. Tentu saja, proses musyawarah harus mencapai kata mufakat, dimana semua anggota musyawarah setuju dengan hasil atau keputusan yang diambil.

  13. Memaafkan
  14. Manusia memang punya kecenderungan sulit memaafkan. Kecewa atau sakit hati membuat kamu membentengi hatimu. Kamu merasa tidak adil kalau orang yang sudah berbuat salah itu dimaafkan dan tidak dihukum. Sikap seperti itu nyatanya justru membuatmu semakin menderita. Kamu terus saja dihantui rasa marah dan benci. Alih-alih menyelesaikan konflik, udah pasti hidupmu sendiri tidak akan tenang. Percaya deh kalau jadi seorang pemaaf itu bikin segala sesuatu dalam hidupmu jadi lebih mudah.

Yup, konflik dalam keluarga sudah terselesaikan dengan baik. Semua kembali seperti semula dan baik-baik saja. Kamu berhasil. Tapi, tugasmu belum berhenti sampai disitu. Renungkan kembali semua yang sudah terjadi. Runut ulang setiap kejadian.

Kenapa masalah itu bisa muncul? Gimana rasanya saat semua keluarga sedang bersitegang? Lalu, masing-masing mulai menenangkan diri dan bicara. Akhirnya, kamu sampai di posisimu saat ini. Konflik keluargamu udah selesai.

Selanjutnya, mulailah membuat resolusi untuk hari esok. Apa yang bisa kamu lakukan agar konflik yang sama tidak terulang lagi? Coba pikirkan tentang apa yang harus diubah dan diperbaiki agar keluargamu bisa tetap baik-baik saja.

Mengalami konflik keluarga tentu bukan hal yang menyenangkan. Sebisa mungkin berusahalah untuk menyelesaikan masalah yang datang dengan bersikap dewasa. Semoga kamu dan keluargamu selalu berbahagia, ya Maiders.